Share this

“Ini Tuh Kebutuhan, Bukan Pemborosan!”… Yakin?
Pernah nggak sih kamu berdiri di depan etalase toko sepatu atau scroll marketplace berjam-jam, terus hati kecilmu berdebat hebat? “Beli nggak ya? Sepatu lama masih bagus sih, tapi yang ini model terbaru, limited edition lagi! Ah, beli aja deh, kan aku butuh sepatu buat healing.”
Kalimat “Aku butuh ini” seringkali jadi mantra paling berbahaya bagi dompet kita. Di era media sosial yang penuh racun flexing, batas antara Needs (Kebutuhan) dan Wants (Keinginan) jadi makin kabur. Kita sering memanipulasi otak sendiri, melabeli keinginan impulsif sebagai kebutuhan mendesak. Akibatnya? Tanggal muda foya-foya, tanggal tua makan promag.
Keresahan ini bukan cuma milik kamu kok. Jutaan milenial dan Gen Z terjebak dalam fenomena Lifestyle Creep—gaji naik, gaya hidup ikutan naik, tabungan tetap nol. Kalau kamu nggak mau terjebak selamanya dalam lingkaran setan “Gaji Numpang Lewat”, saatnya kita bedah ilusi ini sampai ke akarnya!
Kronologi “Self Reward” yang Kebablasan
Dulu, definisi kebutuhan itu sederhana: Sandang, Pangan, Papan. Tapi sejak istilah “Self Reward” dan “YOLO (You Only Live Once)” digoreng terus oleh influencer, standar kebutuhan bergeser.
Beli kopi Rp 50 ribu tiap pagi dianggap kebutuhan “supaya melek kerja”. Ganti HP tiap tahun dianggap kebutuhan “biar nggak lemot”. Padahal, itu semua adalah keinginan yang didandani seolah-olah kebutuhan. Puncaknya adalah saat diskon tanggal kembar, di mana logika mati dan tombol checkout ditekan membabi buta.
Dampak Fatal Bagi Trader Crypto & Investor Pemula
Ketidakmampuan membedakan Needs dan Wants ini dampaknya ngeri banget, apalagi kalau kamu juga seorang trader crypto atau investor saham.
- Dana Darurat Terpakai: Karena uang bulanan habis buat beli barang “keinginan” (gadget baru, baju branded), saat ada kebutuhan mendesak (sakit, motor rusak), trader sering nekat mencairkan aset investasinya di harga rugi (cut loss).
- FOMO Trading: Keinginan untuk “cepat kaya” (Wants) sering mengalahkan kebutuhan untuk “berinvestasi aman” (Needs). Akibatnya, banyak yang terjebak beli koin micin karena FOMO, padahal secara fundamental itu judi, bukan investasi. Ini merusak rencana investasi jangka panjang yang sudah disusun.
Analisis: The 72-Hour Rule (Jurus Tahan Napas)
Secara teori, Needs adalah sesuatu yang tanpanya kamu nggak bisa hidup atau kerja (makan, listrik, kuota internet kerja). Wants adalah sesuatu yang meningkatkan kualitas hidup tapi tanpanya kamu tetap baik-baik saja (Netflix, makan di restoran, iPhone terbaru).
Cara paling ampuh membedakannya adalah dengan The 72-Hour Rule. Kalau kamu pengen banget beli sesuatu (yang bukan kebutuhan pokok), tahan diri selama 3 hari (72 jam).
- Kalau setelah 3 hari kamu lupa, berarti itu cuma lapar mata (Wants).
- Kalau setelah 3 hari masih kepikiran dan memang fungsinya krusial, baru pertimbangkan untuk beli (Needs).
Penutup: Bukan Pelit, Tapi Cerdas
Membedakan Needs dan Wants bukan berarti kamu harus hidup menderita kayak orang pelit. Kamu BOLEH beli barang keinginan, asalkan pos untuk dana darurat dan kebutuhan pokok sudah aman terkendali.
Pelajaran pentingnya: Jangan biarkan gengsi memakan gajimu. Penuhi kebutuhanmu dulu, baru manjakan keinginanmu dengan sisa uang yang ada—bukan sebaliknya. Ingat, bebas finansial dimulai dari kemampuan mengendalikan diri, bukan dari seberapa besar gajimu.
Mulai sekarang, sebelum tap kartu atau scan QRIS, tanya dulu ke diri sendiri: “Ini butuh, atau cuma pengen?”
CTA Ringan: Coba ngaku dosa di kolom komentar, barang apa yang terakhir kamu beli karena “lapar mata” dan sekarang malah numpuk di gudang? Spill yuk!
